Kamis, 29 November 2012

ASPEK DASAR FILSAFAT DARI PANDANGAN BARAT


ASPEK DASAR FILSAFAT DARI PANDANGAN BARAT

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Filsafat sesungguhnya menelusuri dan mengkaji suatu pemikiran mendasar dan tertua yang mengawali kebudayaan manusia. Suatu sistem filsafat berkembang berdasarkan ajaran seseorang atau beberapa orang tokoh pemikir filsafat ( baca filosof ). Filsafat lahir dipengaruhi dua faktor. Faktor pertama intern : kecenderungan atau dorongan dari dalam diri manusia, rasa ingin tahu. Faktor kedua ekstern : adanya hal atau sesuatu yang mengganjal di hadapan manusia, sehingga menimbulkan rasa heran dan kagum. Dari dua faktor itu manusia akan menemukan kebenaran, tetapi rasa ingin tahu mengenai sesuatu sampai ke akar-akarnya itulah sebagai pertanda bahwa filsafat itu sudah lahir dikarenakan keinginan manusia sangat dinamis.
            Setiap orang itu berada di dalam filsafat hidupnya. Jadi setiap orang berfilsafat. Dapat dijelaskan dengan melihat sendiri kenyataan bahwa tidak ada manusia atau seseorang pun yang tidak memiliki tujuan hidup kecuali orang gila yang tidak punya tujuan hidup. Kalau kita mempelajari filsafat diibaratkan dengan kita menonton suatu pertandingan sepak bola maka terlebih dahulu kita harus memisahkan pemain, mana yang masuk klub ini dan mana yang masuk klub itu. Jika tidak demikian, kita akan kebingungan. Kita tidak bisa mengetahui siapa yang kalah, siapa yang menang. Mana yang baik pemainnya dan mana yang tidak.
            Begitulah, apabila kita memasuki pustaka filsafat yang mempunyai ratusan bahkan ribuan buku itu. Kita lebih dahulu mesti memisahkan arah pikiran para filsafat. Jika tidak, niscaya bingunglah kita, tak bisa memisahkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Seperti para pemain sepakbola tidak kacau balau dimata kita. Para ahli filsafat berkata semau-maunya saja, tak ada ujung. Oleh ahli logika Yunani, Curcilo in Defendio. Filsafat dan sejarah ibarat dua sisi sekeping mata uang. Filsafat adalah sejarah yang di abstraksikan dan sebaliknya, sejarah adalah filsafat yang dikonkritkan.
Rumusan Masalah
  1. Bagaimanakah batasan-batasan filsafat ?
  2. Bagaimanakah sistematika filsafat ?
  3. Bagaimanakah aliran filsafat dan siapa sajakah tokoh-tokoh filsafat ?

Tujuan Masalah
  1. Mengetahui batasan-batasan filsafat.
  2. Mengetahui sistematika filsafat.
  3. Mengetahui aliran dan tokoh-tokoh filsafat.

PEMBAHASAN
BATASAN FILSAFAT
            Hendaknya didasari bahwa memahami sesuatu yang sulit melalui suatu batasan atau definisi. Sebab batasan tidak memberi peninggalan yang memadai, apalagi pengalaman. Pengertian dan pengetahuan tanpa pengetahuan tidak mantap. Seperti pengetahuan teoritis tentang “berenang” tak mungkin bermakna tanpa pengalaman belajar berenang secara langsung. Meskipun demikian, memahami suatu batasan dapat mendorong usaha lebih jauh untuk lebih memantapkan pengetahuan teoritis ini menjadi pengetahuan praktis.
1.      Batasan secara etimologis
a.       Menurut Prof. Dr. John S.Brubacher
Philosophy was, as its etymologi from the greek word filos and sofia, suggest, love, and wisdom or learning. More ever it was love of learning in general, it sub-sumed under one heading what today we all science as well as what we  nom call philosophy is often referred to as the mother as well as the queen of the science” (Brubacher 1962, hal 2).
“Filsafat berasal dari perkataan Yunani filos dan sofia yang berarti cinta, kebijaksanaan atau ilmu pengetahuan. Lebih dari itu filsafat dapat diartikan sebagai cinta belajar pada umumnya, filsafat mencakup apa yang saat ini kita sebut ilmu pengetahuan (science) maupun apa yang sekarang kita sebut filsafat. Untuk inilah sering dikatakan bahwa filsafat adalah induk dan ratu ilmu pengetahuan.
b.      Menurut Runes dalam “Dictionary of  Philosophy
Philosophy” (Gr. Philein, to love, sophia, wisdom)
+the most general
+seeking of widom and wisdom of saught
+originally, the rational explanation of anything.
The general principles under which all facts could be explained : in this sense indistinguishable from science,……now popularly, the science of science, the criticism and systematization or organization of all knowledge, draw from empirical sciener, rational learning common experience or where ever.
Filsafat berasal dari (kata Yunani philein, cinta, Sophia, kebijaksanaan)
+ilmu yang paling umum
+usaha mencari kebijaksanaan
+asalnya, penjelasan rasional dari sesuatu, prinsip-prinsip umu yang menerangkan segala fakta ; dalam pengertian ini tidak dapat dibedakan dengan sciener,……..sekarang, secara popular diartikan sebagai ilmu dari ilmu, kritik dan sistematika atau organisasi dari semua ilmu empiris, pelajaran yang rasional, pengalaman biasa.
c.       Filsafat berasal mula dari kata Yunani “philosophia” dari kata philein yang artinya mencintai, atau philia yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kearifan, yang kemudian menjadi kata “philosophy” ( dalam bahasa Inggris ). Filsafat biasanya diartikan : “cinta kearifan atau kebijaksanaan” (The Lion Gie, 1977 : 5). Lalu orang yang mencintai kebijaksanaan itu disebut filsuf (philosopher atau ahli berfikir) bahasa Arab shopia = sufi.
Apa itu cinta dan apa pula kebijaksanaan?
Misal : aku cinta kamu? Aku adalah subyek dan kamu adalah obyek. Dalam hal ini, aku menyatu dengan dia. Nah didalamnya terkandung persatuan antara aku(subjek) dan kamu(objek). Kebijaksanaan tingkah laku yang benar, maka suatu tingkah laku secara tepat terarah kepada sasaran.

2.      Batasan ditinjau dari isi (substansi)
Filsafat sebagai kegiatan pikir murni (reflective thinking). Menyelidiki objek yang tidak terbatas, yakni kesemestaan ; obyek filsafat dapat dibedakan antara :
a.       Objek material : segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, yang konkret-fisis, yang non fisis, abstrak, psikis spiritual. Termasuk pengertian abstrak-logis, konsepsional, rohaniah, nilai-nilai agama dan alam metafisis, bahkan Tuhan sendiri
b.      Objek formal : menyelidiki segala sesuatu yang tak mengerti hakekatnya. Filsafat mencari kebenaran dan kodrat hakiki sesuatu (the nature of nature) obyek formal ini memberi watak dan sudut pandang yang berbeda dengan ilmu pengetahuan, karena filsafat mengerti segala sesuatu yang tak terbatas (kesemestaan) dan mendasar sedalam-dalamnya (hakiki).

Sistematika Filsafat
a.      Bidang Ontologi
Menurut Runes :
Ontologi adalah teori tentang keberadaan atau eksistensi. Menurut Aristoteles sebagai filsafat pertama, ilmu yang menyelidiki hakikat sesuatu dan disamakan artinya dengan metafisika.
Pada awal pemikiran manusia, mereka berusaha mengerti hakikat sesuatu yang ada disekitarnya, alam yang nampak ini suatu realitas sebagai wujudnya, yakni benda (materi) ataukah ada sesuatu rahasia dibalik realitas itu. Sebagai contoh nampak pada makhluk hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Apakah sesungguhnya alam semesta, binatang-binatang, matahari dan bulan yang beredar (berputar) terus-menerus. Bidang ontologi ini meliputi penyelidikan tentang makna keberadaan (ada, eksistensi) manusia, benda, ada-alam semesta (kosmologi). Juga ada mutlak yang tidak terbatas sebagai maha sumber adanya semesta. Artinya ontologi menjangkau adanya Tuhan dan alam gaib seperti rohani dan sesudah kematian (atau alam dibalik dunia, alam metafisika).
b.      Bidang Epistimologi
Menurut Runes :
Epistimologi adalah bidang atau cabang filsafat yang menyelidiki asal, syarat, metode dan validitas.

Ilmu Pengetahuan:
Pengetahuan manusia, sebagai hasil pengalaman dan pemikiran, membentuk budaya. Bagaimana proses terjadinya pengetahuan sampai membentuk kebudayaan, sebagai wujud keutamaan (superioritas) manusia mengetahui bahwa ia tahu atau bagaimana manusia mengetahui sesuatu itu ilmu pengetahuan, batas dan validitas ilmu pengetahuan. Jadi, epistimologis dapat disebut ilmu tentang ilmu atau teori terjadinya ilmu. Atau science of science atau wissechaftslehre. Termasuk epistimologis : matematika, logika, gramatika dan semantika.
c.       Bidang Axiologi
Batasan axiologi menurut Runes :
Axiologi berasal dari, manfaat, pikiran, atau ilmu/teori. Dalam pengertian yang modern disamakan dengan teori nilai, yakni sesuatu yang diinginkan, disukai atau yang baik: bidang yang menyelidiki hakekat nilai, kriteria, dan kedudukan metafisika suatu nilai.
Menurut Prof. Dr. Brameld, axiologi dapat disimpulkan sebagai suatu cabang filsafat yang menyelidiki :
1)      Tingkah laku moral yang berwujud etika.
2)      Ekspresi etika yang berwujud estetika atau seni dan keindahan.
3)      Sosio-politik yang berwujud ideologi
Bidang axiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki makna nilai, sumber nilai, jenis nilai, tingkatan nilai dan hakekat nilai. Sebagai dihayati manusia selalu berada dan dipengaruhi oleh nilai alamiah dan jasmaniah, tanah subur, udara bersih, air bersih, cahaya dan panas matahari : tumbuh-tumbuhan dan hewan demi kehidupan. Kemudian ada pula nilai psikologis seperti berpikir, rasa, karsa, cinta, estetika, etika, logika, cita-cita, bahkan ada pula nilai Ke-Tuhanan dan agama.
Kehidupan manusia sebagai makhluk subyek budaya, penciptaan dan penegak nilai, berarti manusia secara sadar mencari, memilih dan melaksanakan (menikmati) nilai; jadi nilai merupakan fungsi rohani jasmani manusia. Bahkan nilai didalam kepribadian, seperti pandangan hidup, keyakinan (agama) merupakan kualitas kepribadian. Martabat manusia ditentukan oleh keyakinannya dan amal kebijakan.

Aliran dan Tokoh-tokoh Filsafat
Aliran-aliran utama yang ada sejak dulu sampai sekarang meliputi :
1.      Aliran Ideliasme / Spiritualisme
Mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia. Subjek manusia sadar atas realitas dirinya dan semesta, karena akal budi dan kesadaran rohani. Manusia yang tak sadar atau mati sama sekali tidak menyadari dirinya apalagi realitas semata. Jadi hakekat diri dan kenyataan ialah akal budi (ide spirit)
Filsuf Idealisme
PLATO
Pandangan dari Plato, sampai kepada ajaran etika. Dalam ajaran etikanya, ia mengajarkan bahwa siapa pun manusia itu harus mampu mencapai pemahaman tentang dunia idea. Disebut idea kebaikan ini, maka kebahagiaan hidup dapat diharapkan. Orang dapat mencapai pemahaman idea kebaikan bila mampu menyelami dunia pengalaman, inilah kemudian dikenal sebagai ajaran mengenal diri sendiri (to know himself).
DAVID HUME
Hume memberikan gagasan “if I go into my self”, kalau saya memasuki diri saya sendiri, kata Hume maka saya jumpai “bundles of conception, bergulung-gulung pengertian dan bermacam-macam gambaran benda”
J.O FICHTE
Ficthe mengakui dan memberikan pioritas yang tinggi kepada aku sehingga dikatakan bahwa adalah satu-satunya realitas. Hal ini dapat dimengerti karena “aku yang otonom dan merdeka, menempatkan diri menjadi sadar akan objek yng dihadapi, yaitu bukan aku”. Bukan aku ini adalah tergantung pada aku, sedangkan fungsinya dihadapi dan diatasi. Perkembangan terletak sepenuhnya pada hasil pengatasan objek (bukan aku).
SCHELLING
Pandangan yang lebih jauh dan luas, ia mengaku bahwa objek (buka aku) itu sungguh-sungguh ada. Bahwa aku (subjek) itu muncul dari alam (bukan aku) yang sungguh ada. Schelling mengakui adanya objek sebagai realitas, maka idealismenya dinamakan idealisme objektif.
GORG WILHELM FRIEDERICH HEGEL
Filsafat Hegel mencari yang mutlak dan yang tidak mutlak. Yang mutlak adalah roh (jiwa), tetapi roh itu menjelma pada alam, dan demikian sadarlah akan dirinya. Roh adalah idea, yang artinya berpikir. Dalam sejarah kemanusiaan sadarlah roh itu akan dirinya, dan kemanusiaan merupakan bagian dari ide mutlak, yaitu Tuhan sendiri. Dikatakan selanjutnya bahwa idea yang berpikir itu selamanya adalah gerak yang berlawanan, yaitu antitesis. Akhirnya, adanya tersis gerak yang mutlak dan kemudian muncul antitesis yang pada akhirnya menimbulkan pula antitesis dan sintesis baru dan menimbulkan pula antitesis dan sintesis baru, begitulah seterusnya.
2.      Aliran Materialisme
Mengajarkan bahwa hakekat realitas semesta, termasuk makhluk hidup, manusia, hakekatnya ialah materi. Semua realitas itu ditentukan oleh materi (misalnya benda-ekonomi, makan) dan terikat pada hukum alam : sebab akibat (hukum kausalitas) yang bersifat objektif.
Filsuf Materialisme
HERAKLEITAS
Menurut realitas ini berupa gerakan, perubahan dan keadaan yang serba menjadi. Semua serba mengalir. Di dalam sejarah perkembangan filsafat, paham kefilsafatan dikenal dengan “filsafat menjadi” (to become). Kemudian pandangannya itu menjadi pedoman bagi pengetahuan yang benar (kebenaran), dimana panca indera menjadi ukuran. Jadi, apa yang ditangkap indera yaitu yang konkret, yang satu-persatu, yang selalu berubah dari menjadi adalah yang benar. Pada masa Yunani juga ada nama-nama lain seperti Demokritus dan Epikurus.
LAMETTRIE
Mempunyai gagasan bahwa manusia adalah mesin belaka dan sama dengan binatang. Prinsip hidup bahwa pada umumnya di ingkari dengan menunjukkan bukti bahwa “tanpa jiwa badan dapat hidup” tetapi jiwa, badan dapat hidup” tetapi jiwa tanpa badan tidak dapat hidup. Contohnya, jantung katak yang dikelurkan dari tubuhnya masih dapat berdenyut beberapa detik. Namun, tidak mungkin ada katak tanpa badan. Materialisme ini meluas sampai ke Jerman dengan tokoh-tokohnya yang terkenal yaitu Feverbach (1804-1872), Buchner dan Molenschat.
KARL MARX
Terkenal sebagai bapak materialisme dialektis dan surplus value, yakni nilai lebih, yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Dikatakan Karl marx bahwa hidup manusia ditentukan oleh keadaan ekonomi. Segala hasil tindakan (ilmu, seni, agama, kesusilaan, hukum, dan politik) merupakan endapan dari keadaan ekonomi itu sendiri ditentukan sepenuhnya oleh sejarah. Masyarakat pada mulanya tidak mengenal pertentangan-pertentangan dalam tingkatan, oleh karena adanya keahlian dalam pekerjaan dan karena adanya milik, maka muncullah tingkatan atau kelas dalam masyarakat. Masyarakat ini harus berkembang dan perkembangannya disebut sejarah. Perkembangan sejarah harus didorong oleh kekuatan-kekuatan untuk menghasilkan. Jadi, ada identitas antara perkembangan masyarakat dengan perkembangan masyarakat adalah dorongan untuk hidup, yaitu makan, minum, pakaian, dan hal yang diusahakan oleh manusia itu sendiri. Untuk mengusahakannya diperlukan alat-alat dan alat-alat itu semuanya adalah materi belaka, yang hendaknya diusahakan punya materi. Karena itulah keseluruhan perkembangan ditentukan oleh materi.
F. ENGEL
Yang pemikirannya tidak jauh dari Karl Marx. Tetapi dengan memakai engels sebagai petunjuk jalan, kita bisa terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels sekarang terkenal sebagai kreator Marx.
3.      Aliran Realisme
Mengajarkan bahwa kedua aliran diatas, materialisme dan idealisme yang bertentangan itu tidak sesuai dengan kenyataan, tidak realistis. Sesungguhnya realitas kesemestaan, terutama kehidupan bukanlah benda (materi) semata-mata. Kehidupan, seperti nampak pada tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, mereka hidup berkembang biak, kemudian tua akhirnya mati. Pastilah realitas itu paduan benda (materi, jasmaniah) dengan yang non materi (spiritual, jiwa, rohaniah), khususnya pada manusia Nampak dalam gejala daya piker, cipta dan akal budi. Jadi realisme merupaakn sintesis antara jasmaniah dan rohaniah, materi dan non materi.
Filsuf Realisme
ARISTOTELES
Gagasannya bahwa setiap hal atau benda itu tersusun dari “hule” dan “morfe” yang kemudian dikenal dengan teori hulemorfistik. Hule adalah dasar bermacam-macam. Karena Hule-nya, maka suatu benda adalah benda itu sendiri, benda tertentu. Misalnya si Anu bukan si Banu karena Hule-nya. Sedangkan morfe adalah dasar kesatuan, yang menjadi inti dari segala sesuatu. Karena Morfe-nya, maka segala sesuatu itu sama dengan yang lain (satu inti) termasuk ke dalam suatu jenis yang sama. Morfe ini berbeda dengan hule dan hanya dapat dikenal dengan akal budi saja. Misalnya, si Ali, si Ani, si Ahmad yang berbeda-beda itu berada dalam morfe yang sama, yaitu sebagai manusia. Namun demikian, baik hule maupun morfe, merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan hule segala sesuatu itu maupun didalam realitas, dan karena Morfe-nya segala sesuatu itu mengandung arti hakikat sebagai sesuatu.
GAUTAMA BUDHA
Filsuf mistik yang terbesar sejak dunia ini diketahui. Pengaruhnya lebih besar daripada filsuf Barat seperti Plato sampai Hegel, bahkan lebih besar daripada pengakuan Barat sendiri. Gautama Budha, dia menyatakan rohaninya dengan roh alam dan dari hasil perpaduan pencapaian nirwana. Dan filsuf ahli mistika zaman sekarang salah satunya Mahatma Gandhi yang terkenal dengan Ahimsanya.

Kesimpulan
            Filsafat sebagai kegiatan pemikiran yang tinggi dan murni (tak terlihat langsung dengan suatu objek); yang mendalam (hakiki). Filsafat adalah upaya atau aktivitas atau fungsi pikir subyek manusia dalam memahami segala sesuatu, mencari kebenaran. Berpikir aktif dalam mencari kebenaran adalah potensi dan fungsi kepribadian manusia. Filsafat sebagai hasil pemikiran (filosof), sebagai suatu ajaran atau sistem nilai, baik berwujud pandangan hidup (filsafat hidup), maupun sebagai ideologi yang dianut suatu masyarakat atau bangsa dan negara. Filsafat demikian telah berkembang dan terbentuk sebagai suatu nilai yang melembaga (dengan negara) sebagai suatu paham (isme) : kapitalisme, komunisme, sosialisme, nazisme, fasisme, teokratisme dan sebagainya yang cukup mempengaruhi kehidupan bangsa/negara.

DAFTAR RUJUKAN
Malaka, Tan. 1999. Madilog. Jakarta: Pusat Data Indikan .
Malang, Laboratorium Pancasila IKIP. 1991. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Malang: IKIP Malang
Rapar, Jan Hendrik. 2005. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
Strathtern, Paul. 2001. 90 Menit Bersama Hegel. Jakarta: Erlangga.
Suhartono, Suparlan. 2007. Dasar-dasar Filsafat. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar